Mungkin sejarah adalah sebuah labirin tanpa penanda yang pasti, seperti ketika Tan Malaka berdiri di Moskow pada suatu hari di bulan November 1922, mencoba meruntuhkan tembok-tembok kategori yang dibangun oleh dogma Internasionale keempat. Dalam pidatonya yang kemudian dibukukan sebagai Komunisme dan Pan-Islamisme, sang pejalan revolusioner ini tidak menyodorkan sebuah tesis yang kaku, melainkan sebuah jembatan antara dua arus besar yang sering kali dianggap saling mengerkah: merah dan hijau. Bagi Tan, Pan-Islamisme di tanah jajahan bukanlah sebuah igauan purba tentang kekhalifahan yang menaklukkan dengan pedang, melainkan sebuah persaudaraan praktis dari kaum yang lapar dan terhina untuk melawan cengkeraman imperialisme global. Ia bercerita tentang Sarekat Islam, tentang petani yang takut kehilangan "surganya", dan tentang perlunya sebuah "front persatuan" yang melompati pagar-pagar identitas demi sebuah kemerdekaan yang belum selesai. Barangkali, di sana kita diingatkan kembali bahwa di balik setiap ideologi yang berteriak, selalu ada manusia yang rindu untuk bebas, dan kebenaran—seperti halnya sejarah—selamanya adalah sebuah kebelumselesaian.
Description:
Mungkin sejarah adalah sebuah labirin tanpa penanda yang pasti, seperti ketika Tan Malaka berdiri di Moskow pada suatu hari di bulan November 1922, mencoba meruntuhkan tembok-tembok kategori yang dibangun oleh dogma Internasionale keempat. Dalam pidatonya yang kemudian dibukukan sebagai Komunisme dan Pan-Islamisme, sang pejalan revolusioner ini tidak menyodorkan sebuah tesis yang kaku, melainkan sebuah jembatan antara dua arus besar yang sering kali dianggap saling mengerkah: merah dan hijau. Bagi Tan, Pan-Islamisme di tanah jajahan bukanlah sebuah igauan purba tentang kekhalifahan yang menaklukkan dengan pedang, melainkan sebuah persaudaraan praktis dari kaum yang lapar dan terhina untuk melawan cengkeraman imperialisme global. Ia bercerita tentang Sarekat Islam, tentang petani yang takut kehilangan "surganya", dan tentang perlunya sebuah "front persatuan" yang melompati pagar-pagar identitas demi sebuah kemerdekaan yang belum selesai. Barangkali, di sana kita diingatkan kembali bahwa di balik setiap ideologi yang berteriak, selalu ada manusia yang rindu untuk bebas, dan kebenaran—seperti halnya sejarah—selamanya adalah sebuah kebelumselesaian.