Dalam sebuah brosur kecil dari tahun 1921, Tan Malaka memandang pendidikan bukan sekadar sebagai deretan bangku di dalam kelas yang tertib, melainkan sebagai sebuah palagan tempat jiwa-jiwa muda ditempa agar tidak menjadi sekadar gerigi dalam mesin kapitalisme kolonial. Di sekolah Sarekat Islam Semarang, ilmu pengetahuan—dari hitungan hingga penguasaan bahasa—dihadirkan sebagai "senjata" yang niscaya untuk bertahan hidup dalam dunia kemodalan yang tak mengenal belas kasihan. Namun, bagi Tan Malaka, keunggulan otak tidak boleh memisahkan si murid dari keringat berjuta-juta Kaum Kromo; ia menolak didikan yang melahirkan kaum terpelajar yang sombong dan menghina bangsanya sendiri. Melalui eksperimen ini, ada upaya untuk mengembalikan "hak kesukaan hidup" anak-anak lewat pergaulan yang merdeka dan organisasi yang mandiri, di mana mereka belajar membersihkan papan tulis sendiri tanpa merasa sebagai "jongos". Barangkali, melalui SI Semarang, kita diingatkan bahwa pendidikan yang sejati adalah sebuah ikhtiar batin untuk tetap berorientasi ke bawah, memastikan bahwa setiap langkah menuju kemajuan tetap berpijak pada kecintaan terhadap rakyat yang melarat, agar ilmu tidak berakhir menjadi alat penindasan baru.
Description:
Dalam sebuah brosur kecil dari tahun 1921, Tan Malaka memandang pendidikan bukan sekadar sebagai deretan bangku di dalam kelas yang tertib, melainkan sebagai sebuah palagan tempat jiwa-jiwa muda ditempa agar tidak menjadi sekadar gerigi dalam mesin kapitalisme kolonial. Di sekolah Sarekat Islam Semarang, ilmu pengetahuan—dari hitungan hingga penguasaan bahasa—dihadirkan sebagai "senjata" yang niscaya untuk bertahan hidup dalam dunia kemodalan yang tak mengenal belas kasihan. Namun, bagi Tan Malaka, keunggulan otak tidak boleh memisahkan si murid dari keringat berjuta-juta Kaum Kromo; ia menolak didikan yang melahirkan kaum terpelajar yang sombong dan menghina bangsanya sendiri. Melalui eksperimen ini, ada upaya untuk mengembalikan "hak kesukaan hidup" anak-anak lewat pergaulan yang merdeka dan organisasi yang mandiri, di mana mereka belajar membersihkan papan tulis sendiri tanpa merasa sebagai "jongos". Barangkali, melalui SI Semarang, kita diingatkan bahwa pendidikan yang sejati adalah sebuah ikhtiar batin untuk tetap berorientasi ke bawah, memastikan bahwa setiap langkah menuju kemajuan tetap berpijak pada kecintaan terhadap rakyat yang melarat, agar ilmu tidak berakhir menjadi alat penindasan baru.