Ada sebuah masa ketika kepalan tangan bukan sekadar pose pada poster yang memudar, melainkan detak jantung dari sebuah republik yang tengah mencari pintu gerbangnya. Buku Revolusi Nasional dan 1 Mei adalah sebuah rekaman dari gairah yang kini mungkin terasa arkais: sebuah saat ketika nasib kaum buruh dan tani tidak dipandang sebagai sekadar angka dalam statistik ekonomi, melainkan sebagai sendi-sendi yang menyangga tegaknya kemerdekaan. Di dalamnya, sejarah berkelana dari gergaji kayu di San Francisco hingga derap langkah demonstrasi di Paris, merumuskan 1 Mei bukan sebagai hari libur yang sepi, melainkan sebagai "hari persatuan hati" yang melampaui sekat negara dan warna kulit. Melalui larik-larik lagu perjuangan dan narasi tentang benturan kelas, buku ini membayangkan Indonesia sebagai sebuah proyek yang tak hendak berhenti pada kedaulatan politik semata, melainkan terus meninggi menuju kemerdekaan ekonomi bagi mereka yang perutnya masih keroncongan dan rumahnya masih serupa kandang ayam. Ia adalah sebuah testimoni tentang optimisme yang lahir dari pengorbanan—sebuah keyakinan bahwa benteng kapitalisme yang lapuk bisa dirobohkan oleh jiwa-jiwa yang telah sadar dan tak lagi sudi ditindas. Namun, di tengah gemuruh pekik "Merdeka dan Menang", kita pun diingatkan bahwa revolusi adalah proses yang bertingkat-tingkat, sebuah perjalanan panjang yang mungkin tak pernah benar-benar sampai ke ujungnya yang tenang.
Description:
Ada sebuah masa ketika kepalan tangan bukan sekadar pose pada poster yang memudar, melainkan detak jantung dari sebuah republik yang tengah mencari pintu gerbangnya. Buku Revolusi Nasional dan 1 Mei adalah sebuah rekaman dari gairah yang kini mungkin terasa arkais: sebuah saat ketika nasib kaum buruh dan tani tidak dipandang sebagai sekadar angka dalam statistik ekonomi, melainkan sebagai sendi-sendi yang menyangga tegaknya kemerdekaan. Di dalamnya, sejarah berkelana dari gergaji kayu di San Francisco hingga derap langkah demonstrasi di Paris, merumuskan 1 Mei bukan sebagai hari libur yang sepi, melainkan sebagai "hari persatuan hati" yang melampaui sekat negara dan warna kulit. Melalui larik-larik lagu perjuangan dan narasi tentang benturan kelas, buku ini membayangkan Indonesia sebagai sebuah proyek yang tak hendak berhenti pada kedaulatan politik semata, melainkan terus meninggi menuju kemerdekaan ekonomi bagi mereka yang perutnya masih keroncongan dan rumahnya masih serupa kandang ayam. Ia adalah sebuah testimoni tentang optimisme yang lahir dari pengorbanan—sebuah keyakinan bahwa benteng kapitalisme yang lapuk bisa dirobohkan oleh jiwa-jiwa yang telah sadar dan tak lagi sudi ditindas. Namun, di tengah gemuruh pekik "Merdeka dan Menang", kita pun diingatkan bahwa revolusi adalah proses yang bertingkat-tingkat, sebuah perjalanan panjang yang mungkin tak pernah benar-benar sampai ke ujungnya yang tenang.