Apa Sebabnya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Kita Harus Mengindahkan Kesukaran-Kesukaran Tiap-Tiap Suku-Bangsa yang Disebabkan Pengaruh Bahasa Ibunya?
Bahasa, barangkali, adalah sebuah rumah yang tak pernah selesai dibangun, terutama ketika para penghuninya membawa serta gema dari masa lalu yang majemuk ke dalam ruang-ruang barunya. Dalam risalah dari tahun 1963 ini, Uyeng Suwargana dan Amin Singgih seakan menggugat sebuah kemalasan didaktik: kecenderungan untuk memukul rata pengajaran bahasa nasional tanpa mengindahkan "jiwa" bahasa daerah yang telah lebih dulu merasuk ke ulu hati anak-anak. Mereka menawarkan sebuah lintasan "dua arah", sebuah linguistic method yang bukan sekadar doktrin tata bahasa yang kaku, melainkan upaya memperbandingkan persinggungan antara bahasa ibu dan bahasa persatuan agar yang satu tak mengacaukan yang lain dalam proses "menjadi Indonesia". Di tengah hasrat menuju satu standar yang uniform, buku ini sebenarnya mencatat kegelisahan tentang sisa-sisa cara berpikir kolonial yang masih tertinggal di laci-laci sekolah, seraya mengajak kita merombak cara mengajar demi menemukan kedaulatan batin dalam tiap suku kata yang kita ucapkan. Pada akhirnya, pengajaran bahasa di sini tampil bukan sebagai mesin penyeragam, melainkan sebuah proses psikologis yang sadar akan keterbatasan dan kerumitan manusia yang hidup di antara beratus-ratus lidah.
Description:
Bahasa, barangkali, adalah sebuah rumah yang tak pernah selesai dibangun, terutama ketika para penghuninya membawa serta gema dari masa lalu yang majemuk ke dalam ruang-ruang barunya. Dalam risalah dari tahun 1963 ini, Uyeng Suwargana dan Amin Singgih seakan menggugat sebuah kemalasan didaktik: kecenderungan untuk memukul rata pengajaran bahasa nasional tanpa mengindahkan "jiwa" bahasa daerah yang telah lebih dulu merasuk ke ulu hati anak-anak. Mereka menawarkan sebuah lintasan "dua arah", sebuah linguistic method yang bukan sekadar doktrin tata bahasa yang kaku, melainkan upaya memperbandingkan persinggungan antara bahasa ibu dan bahasa persatuan agar yang satu tak mengacaukan yang lain dalam proses "menjadi Indonesia". Di tengah hasrat menuju satu standar yang uniform, buku ini sebenarnya mencatat kegelisahan tentang sisa-sisa cara berpikir kolonial yang masih tertinggal di laci-laci sekolah, seraya mengajak kita merombak cara mengajar demi menemukan kedaulatan batin dalam tiap suku kata yang kita ucapkan. Pada akhirnya, pengajaran bahasa di sini tampil bukan sebagai mesin penyeragam, melainkan sebuah proses psikologis yang sadar akan keterbatasan dan kerumitan manusia yang hidup di antara beratus-ratus lidah.