Description:
Sejarah, bagi mereka yang berkuasa, sering kali tampak sebagai garis lurus yang tenang, hingga suatu hari alang-alang di pesisir Edi menyembunyikan maut dalam parit-parit yang bisu. Hikayat Perang di Edi bukan sekadar sebuah kronik militer tentang gerak pasukan Kumpeni dan ketangkasan bayonet serdadu Ambon di pengujung abad ke-19, melainkan sebuah fragmen tentang kerapuhan sebuah kesepakatan politik yang semula dikira stabil dan abadi. Di balik narasi pertempuran dan asap mesiu yang digambarkan dengan bahasa Melayu Rendah yang bersahaja itu, kita seakan menangkap gema kegelisahan seorang raja yang terjepit di antara tuntutan kolonial dan "perubahan adat" rakyatnya yang mendadak bergolak. Perang, dalam catatan ini, tampil sebagai rangkaian pertemuan yang kacau di tengah belantara dan lubang-lubang kalaburan, di mana heroisme dan maut berkelindan di bawah matahari Aceh yang terik—sebuah pengingat bahwa di setiap jengkal tanah yang ditaklukkan, selalu ada bagian dari sejarah manusia yang menolak untuk sepenuhnya diringkas ke dalam laporan resmi atau sekadar angka-angka kemenangan di atas kertas.