Description:
Mungkin di sebuah kamar redup di Batavia tahun 1930, R.B. Jayanegara—seorang mantan Hoofdjaksa yang biasanya sibuk dengan berkas perkara dan pasal hukum kriminal—menaruh pena hukumnya dan mulai menyidik sesuatu yang jauh lebih luas: rahasia Alam, akal, dan Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bukunya, Pengertian yang Tiada Dimengerti, ia mengajak kita menelusuri labirin akal yang mencoba membedakan antara sekadar "tahu" dan benar-benar "mengerti", sebuah upaya yang hampir nekat untuk menangkap hakikat sang "Ada" di tengah bayang-bayang sang "Tiada". Jayanegara bukanlah seorang dogmatis yang merasa memegang kunci surga; ia justru tampil sebagai seorang pejalan intelektual yang menyadari bahwa semakin tajam akal digunakan untuk mengenal diri, semakin nyata pula gelapnya misteri yang menyelimuti kehadiran manusia di jagat raya. Di ujung catatannya, sang mantan jaksa ini membawa kita pada sebuah kearifan yang syahdu: bahwa puncak tertinggi pengetahuan bukanlah penguasaan kognitif yang final, melainkan sebuah pengakuan akan kedaifan, sebuah titik di mana manusia menundukkan kepala bukan karena takut akan neraka, melainkan karena terkesima pada sebuah Dzat yang—seperti judul bukunya—memang tak akan pernah selesai untuk dimengerti.