Description:
Sejarah mungkin bukanlah sebuah garis yang lurus, melainkan seikat hikayat yang disusun di atas meja seorang kerani di Batawi pada tahun 1894. Dalam buku Biegman ini, Tanah Hindia dibayangkan sebagai sebuah ruang yang perlahan bersentuhan dengan yang "asing"—Hindu, Arab, Portugis, dan Belanda—seperti warna yang meresap ke dalam selembar kain yang mula-mula polos. Kita dibawa menyusuri fasal demi fasal, dari zaman purbakala yang hanya menyisakan kata "besi" dan "padi" sebagai jejak kearifan asali, menuju megahnya tembok Majapahit yang kapalnya membelah samudra, hingga guruh mariam Kompani yang mengubah pelabuhan Banten menjadi pasar bagi rempah dan ambisi. Ini adalah rekaman tentang bagaimana adat yang kasar dihaluskan, atau mungkin dijinakkan, di mana silsilah dewa-dewa Hindu yang sakti bersalin rupa menjadi syariat kaum Padri yang keras, dan pada akhirnya, semuanya diringkus dalam tata buku administrasi kolonial yang merasa diri telah membawa keamanan bagi "orang kecil". Membacanya hari ini seperti menatap sebuah album tua yang berdebu: kita melihat wajah-wajah yang mencoba "menjadi" di antara guncangan perubahan, seraya sadar bahwa setiap catatan sejarah selalu menyimpan apa yang terlupa di pinggirannya.