Description:
Buku Penyuratan Pekerjaan Perang di Negeri Aceh hadir sebagai sebuah fragmen yang mencoba membekukan gema mesiu dan kilatan bayonet ke dalam deretan alfabet yang kini terasa kusam dan berjarak. Di dalamnya, Kapitein W.J. Philips menyusun sebuah risalah tentang "perbuwatan yang masyhur"—sebuah manual kepahlawanan bagi para serdadu muda agar tak lupa akan "kabranian" di tengah rimba yang tak bersahabat. Namun, di balik narasi tentang kehormatan "bandera naranji" dan deru serangan di Kampung Lembu atau Missigit Raiya, kita seakan menemukan sebuah kesunyian yang ganjil: kisah-kisah tentang manusia-manusia yang terjepit di antara keteguhan hati dan maut yang mengintai, seperti sosok Jogatie atau Wirokromo yang muncul sebagai noktah kecil di tengah narasi besar penaklukan. Buku ini bukanlah sekadar kronik militer yang dingin; ia adalah sebuah saksi bagaimana sejarah mencoba memberikan bingkai pada kekerasan, di mana setiap patroli yang berdarah dan benteng yang lumat dicatat sebagai usaha untuk merawat sebuah ingatan kolektif tentang keberanian yang, sebagaimana lazimnya dalam tiap perang, sering kali berakhir menjadi tilas yang fana di atas tanah Aceh yang keras.