Description:
Di tahun 1921, seorang pemuda berumur 24 tahun di Semarang menuliskan sebuah kegelisahan yang melintasi samudera ideologi. Tan Malaka, dalam Parlemen Atau Soviet?, menyajikan sebuah penerawangan tajam tentang dua pelita Barat yang tengah menyilaukan mata bangsa terjajah: parlemen yang dianggap sebagai rahim kapitalisme dan soviet yang lahir dari deru revolusi buruh. Dengan bahasa yang kini mungkin terasa arkais namun tetap berdenyut, buku ini bukan sekadar risalah politik; ia adalah sebuah pembedahan sejarah yang menelusuri bagaimana kedaulatan rakyat sering kali terjepit di antara birokrasi yang dingin dan modal yang rakus. Melalui perbandingan antara kekakuan sistem di Jerman dan kematangan di Inggris, hingga eksperimen diktator proletariat di Rusia, Tan Malaka mengajak kita bertanya: di tengah kelangkaan dan ketidakpastian sebuah negeri yang baru "menjadi", manakah jembatan yang benar-benar sanggup mengangkut martabat manusia keluar dari lumpur perbudakan? Akhirnya, kita diingatkan bahwa sejarah bukanlah garis lurus yang selesai di atas kertas, melainkan sebuah proses yang senantiasa menanti untuk dipilih dan dihidupkan kembali, di antara angan-angan kebebasan dan kenyataan kekuasaan yang tak pernah tunggal.