Description:
Hikayat Kadirun, sebuah risalah yang ditulis dengan "air mata kesengsaraan dalam penjara", adalah cermin dari sebuah subyek yang lahir di retakan antara dua dunia. Ia adalah kisah tentang seorang anak emas kolonial yang menemukan bahwa "jalan lurus" birokrasi hanyalah sebuah labirin kusam tempat keadilan dibekukan demi kepentingan tuan-tuan besar. Di tengah derap modernitas yang membawa mesin dan modal, Kadirun hadir sebagai sosok "satria" yang bimbang: ia mencintai Ardinah—sebuah keindahan yang terperangkap dalam penindasan—sekaligus merindukan sebuah tatanan di mana manusia tak lagi jadi "cacing" yang diinjak. Melalui perjumpaannya dengan komunisme, yang ia imani sebagai "kodrat Allah", ia memilih untuk menanggalkan jubah kemapanan dan turun ke jalan sebagai sang "Pencari" yang sunyi. Pada akhirnya, hikayat ini bukanlah sebuah doktrin yang tertutup, melainkan sebuah pengakuan bahwa kemerdekaan sejati senantiasa menuntut pengorbanan ego, sebuah proses yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap sejarah yang besar, selalu ada jerit kecil manusia yang menolak untuk menyerah.