Description:
Habis Gelap Terbitlah Terang, rekaman kesadaran yang terkurung dalam belenggu besi adat-adat kuno, adalah cermin pergulatan yang genting. Ia berlayar di selat tipis yang memisahkan kewajiban yang mulia dengan kelobaan yang hina. Kerinduan kepada cahaya kemajuan — yang bukan terang mentah tanpa bayangan—menyeretnya ke dalam dilema etis yang tak terhindarkan: apakah cita-cita harus dikurbankan demi meredakan amarah dan kecemburuan orang banyak? Kritik itu, dengan mata yang tajam, menembus lapisan dogma: buat apa menghafal firman dalam bahasa yang tak dimengerti, jika tuhan, agama, atau patriotisme sendiri sering menjadi dalih bagi kekejaman dan penindasan? Pengarangnya tahu betul bahwa ia harus berpikir benar-benar sebelum mengeluarkan suara tentang kelaliman yang ditanggung perempuan sebangsanya, apalagi ketika ia harus memikul kekhawatiran untuk dianggap bodoh atau sepele. Ia adalah seorang yang menampik tatanan yang stabil dan penuh, sebab ia menyadari kebenaran datang dari pengalaman sengsara dan proses insaf akan diri. Maka, apakah Terang, yang konon terbit setelah Gelap gulita, pada akhirnya hanya sebuah nama baru bagi proses yang tak pernah selesai, sebuah kebebasan yang harus diperjuangkan sendirian, seakan-akan manusia adalah sebuah kompas yang tahu arah utara, tetapi sadar ia harus berjalan di atas peta yang selalu koyak?