Description:
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus bukanlah sekadar antologi yang menggelegar, melainkan sebuah rekaman kontemplatif dari kesadaran yang terombang-ambing di antara kekalahan dan pembebasan. Ia adalah cermin di mana Aku sang penyair mencari tempat berlindung, memilih berbenah dalam kamar, dalam diriku, menanggapi hiruk-pikuk sejarah—yang terentang dari pahlawan Diponegoro hingga keharusan menjaga Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir—dengan sikap yang genting dan menunda kepastian. Kritik paling tajam, agaknya, datang dari pengakuan yang memilukan: segala kemutlakan soal yang pernah diyakini telah sirna; perjuangan manusia yang mukul dentur selama tiada lain hanya untuk melindungi Kurnia Bahgia kecil setumpuk yang pada akhirnya tetap sia-sia. Lantas, jika jasad telah menjadi tulang-tulang berserakan yang menanti arti dari generasi yang datang, apakah yang tersisa dari perjalanan ke puncak gunung itu selain tubuh yang diam dan sendiri, dihantui oleh tanya dulu, tanya lama, tanya, sebuah isyarat bahwa kebenaran, sebagaimana puisi, adalah proses yang tak pernah selesai, sebuah fragmen yang abadi dalam keterasingannya?