Sebuah buku kadangkala hanyalah sepucuk tilas dari gairah yang pernah meledak, seperti pidato D.N. Aidit di suatu Mei yang terik pada tahun 1955, sepuluh tahun sebelum segalanya menjadi abu dan sejarah dipaksa untuk bungkam. Di dalamnya, riwayat PKI tak tampil sebagai garis lurus yang damai, melainkan sebuah peta pergulatan yang penuh retakan dan ambiguitas: dari hari-hari kelahiran di tahun 1920 yang menjanjikan sintesa antara gerakan buruh dan Marxisme, horor "Teror Putih" yang memenjarakan ingatan di rawa-rawa Digul, hingga kegagapan di sela-sela Revolusi Agustus yang heroik namun traumatis. Aidit menyusun narasi ini bukan sekadar untuk mencatat masa lalu, melainkan sebagai upaya memahat identitas baru tentang "front persatuan" dan "pembangunan partai" di tengah bayang-bayang kesalahan "kekiri-kirian" yang pernah mengisolasi mereka dari rakyat. Barangkali bagi sang Sekretaris Jenderal waktu itu, sejarah adalah sebuah mesin yang bisa diarahkan dengan teori dan "Jalan Baru", tanpa ia menyadari sepenuhnya bahwa di tiap tikungan sejarah yang ia canangkan, selalu ada ketidakpastian yang tak akan pernah bisa diringkus secara final oleh kategori-kategori ideologi.