"Dalam “Obituari”, yang nyaris keseluruhan baitnya ditulis dalam temaram dibalik jeruji besi, Fahmi “menenggelamkan” segenap eksistensinya ke dalam kata-kata. Melalui kata-kata, ia berupaya untuk menemukan kembali dirinya dengan menempatkan diri ke dalam penanda-penanda bahasa yang mewakilinya. Sebuah ikhtiar untuk menjadi “aku” yang fana dan baka pada saat yang sama. Maka buku ini merupakan monumen upaya “penemuan diri” yang soliter, sekaligus menjadi tonggak, menjadi aftertaste bahwa puisi tak bisa melulu hadir hanya dalam kata-kata, tetapi melalui kombinasi tindakan dan kata-kata."
Description:
"Dalam “Obituari”, yang nyaris keseluruhan baitnya ditulis dalam temaram dibalik jeruji besi, Fahmi “menenggelamkan” segenap eksistensinya ke dalam kata-kata. Melalui kata-kata, ia berupaya untuk menemukan kembali dirinya dengan menempatkan diri ke dalam penanda-penanda bahasa yang mewakilinya. Sebuah ikhtiar untuk menjadi “aku” yang fana dan baka pada saat yang sama. Maka buku ini merupakan monumen upaya “penemuan diri” yang soliter, sekaligus menjadi tonggak, menjadi aftertaste bahwa puisi tak bisa melulu hadir hanya dalam kata-kata, tetapi melalui kombinasi tindakan dan kata-kata."