Mungkin ketakutan adalah sebuah konstruksi yang rapi, namun di Loji Kelabu, Sersan Harja memilih untuk tidak patuh pada narasi horor yang lazim. Dalam kisah W.S. Rendra ini, kita bersua dengan sebuah ruang yang dihuni oleh yang gaib—dari hantu serdadu Kompeni yang menyerengai hingga raja jin berkulit hijau yang mengeluarkan keringat hitam—namun segalanya menjadi ganjil di depan seorang manusia yang barangkali terlalu bebal, atau terlalu nekat, untuk merasa ngeri. Bagi sang Sersan, horor tak lebih dari sekadar "sulapan" yang menjengkelkan, sebuah gangguan rutin yang dihadapi dengan nyala obor dan ketawa lebar, seolah-olah ia tahu bahwa maut tak akan mudah menjemput mereka yang melawan dengan kegilaan yang autentik. Di sana, batas antara yang nyata dan yang imajiner luruh bukan karena sebuah mukjizat, melainkan karena sebuah penampikan yang keras kepala terhadap apa yang biasanya dianggap sakral dan menakutkan. Akhirnya, pembaca pun ditinggalkan dengan sebuah tanda tanya: benarkah hantu yang menguasai kita, ataukah ketidakmampuan kita untuk menertawakan kegelapan yang membuat kita selamanya terjajah oleh rasa waswas?
Description:
Mungkin ketakutan adalah sebuah konstruksi yang rapi, namun di Loji Kelabu, Sersan Harja memilih untuk tidak patuh pada narasi horor yang lazim. Dalam kisah W.S. Rendra ini, kita bersua dengan sebuah ruang yang dihuni oleh yang gaib—dari hantu serdadu Kompeni yang menyerengai hingga raja jin berkulit hijau yang mengeluarkan keringat hitam—namun segalanya menjadi ganjil di depan seorang manusia yang barangkali terlalu bebal, atau terlalu nekat, untuk merasa ngeri. Bagi sang Sersan, horor tak lebih dari sekadar "sulapan" yang menjengkelkan, sebuah gangguan rutin yang dihadapi dengan nyala obor dan ketawa lebar, seolah-olah ia tahu bahwa maut tak akan mudah menjemput mereka yang melawan dengan kegilaan yang autentik. Di sana, batas antara yang nyata dan yang imajiner luruh bukan karena sebuah mukjizat, melainkan karena sebuah penampikan yang keras kepala terhadap apa yang biasanya dianggap sakral dan menakutkan. Akhirnya, pembaca pun ditinggalkan dengan sebuah tanda tanya: benarkah hantu yang menguasai kita, ataukah ketidakmampuan kita untuk menertawakan kegelapan yang membuat kita selamanya terjajah oleh rasa waswas?