Mungkin, di antara dinding-dinding tinggi keraton yang wingit itu, kemerdekaan adalah sebuah keganjilan yang menakutkan. Dalam roman Widiyawati, Arti Purbani tidak sekadar menyodorkan sebuah hikayat cinta, melainkan sebuah panorama luas tentang sebuah "sangkar" (gareel) kebudayaan yang mencoba membekukan waktu di antara Solo dan Yogya. Di sana, di tengah tujuh puluh wajah yang jalin-menjalin dalam silsilah dan upacara yang ajek, kita bertemu dengan Widiyawati: seorang gadis yang menolak menjadi sekadar residu dari sebuah struktur feodal yang letih. Ia adalah suara yang bertanya-tanya di tengah ritual sunat dan perkawinan yang penuh takhayul, seorang subyek yang mencari makna melalui pengabdian sebagai guru dan juru rawat ketimbang menjadi pemanis di balairung. Sementara Rawinto berdiri sebagai pengingat betapa pedihnya ketika cita-cita pembaruan harus bertekuk lutut di depan titah yang tak bisa dibantah, Widiyawati tetap menjadi sebuah proses yang tak hendak selesai, sebuah gerak yang memilih menempuh jarak demi menemukan diri yang tidak diringkus oleh masa lalu.
Description:
Mungkin, di antara dinding-dinding tinggi keraton yang wingit itu, kemerdekaan adalah sebuah keganjilan yang menakutkan. Dalam roman Widiyawati, Arti Purbani tidak sekadar menyodorkan sebuah hikayat cinta, melainkan sebuah panorama luas tentang sebuah "sangkar" (gareel) kebudayaan yang mencoba membekukan waktu di antara Solo dan Yogya. Di sana, di tengah tujuh puluh wajah yang jalin-menjalin dalam silsilah dan upacara yang ajek, kita bertemu dengan Widiyawati: seorang gadis yang menolak menjadi sekadar residu dari sebuah struktur feodal yang letih. Ia adalah suara yang bertanya-tanya di tengah ritual sunat dan perkawinan yang penuh takhayul, seorang subyek yang mencari makna melalui pengabdian sebagai guru dan juru rawat ketimbang menjadi pemanis di balairung. Sementara Rawinto berdiri sebagai pengingat betapa pedihnya ketika cita-cita pembaruan harus bertekuk lutut di depan titah yang tak bisa dibantah, Widiyawati tetap menjadi sebuah proses yang tak hendak selesai, sebuah gerak yang memilih menempuh jarak demi menemukan diri yang tidak diringkus oleh masa lalu.