Dalam sebuah gedung di Bandung tahun 1958, kata-kata dipintal menjadi jembatan sekaligus benteng di tengah sebuah teater politik yang tak berkesudahan. Buku kecil ini, PKI dan Pancasila, merekam sebuah momen ketika Nyoto—seorang yang fasih dengan dialektika—mencoba meletakkan palu-arit di bawah payung lima sila, menjadikannya sebuah "titik temu" yang seakan-akan murni dari sengketa demi menjaga keutuhan Republik. Ada semacam ketegangan yang subtil di sana: seorang penganjur revolusi yang mendadak bicara tentang harmoni, tentang kebhinekaan, dan tentang pentingnya menjaga "kepribadian bangsa" dari desakan ideologi yang dianggapnya ingin memonopoli kebenaran. Nyoto tidak hanya menangkis argumen lawan dengan logika yang tajam; ia sedang menggambar sebuah Republik sebagai rumah yang inklusif bagi mereka yang ber-Tuhan satu, ber-Tuhan banyak, hingga mereka yang memilih berdiam dalam ateisme. Namun, membaca kembali pidato-pidato ini hari ini, kita seakan mencium aroma ironi yang menusuk hati: sebuah usaha melembagakan kesepakatan lewat bahasa, sementara kita tahu bahwa sejarah sering kali berjalan seperti "langkah raksasa yang tak punya hati," meninggalkan mufakat sebagai reruntuhan di pinggir jalan yang kemudian menjadi gelap. Agaknya, kebenaran memang ibarat ekor cicak yang menggelepar: kita menangkap katanya yang meyakinkan, tapi maknanya sering kali lepas dan hilang dalam keriuhan zaman yang fana.
Description:
Dalam sebuah gedung di Bandung tahun 1958, kata-kata dipintal menjadi jembatan sekaligus benteng di tengah sebuah teater politik yang tak berkesudahan. Buku kecil ini, PKI dan Pancasila, merekam sebuah momen ketika Nyoto—seorang yang fasih dengan dialektika—mencoba meletakkan palu-arit di bawah payung lima sila, menjadikannya sebuah "titik temu" yang seakan-akan murni dari sengketa demi menjaga keutuhan Republik. Ada semacam ketegangan yang subtil di sana: seorang penganjur revolusi yang mendadak bicara tentang harmoni, tentang kebhinekaan, dan tentang pentingnya menjaga "kepribadian bangsa" dari desakan ideologi yang dianggapnya ingin memonopoli kebenaran. Nyoto tidak hanya menangkis argumen lawan dengan logika yang tajam; ia sedang menggambar sebuah Republik sebagai rumah yang inklusif bagi mereka yang ber-Tuhan satu, ber-Tuhan banyak, hingga mereka yang memilih berdiam dalam ateisme. Namun, membaca kembali pidato-pidato ini hari ini, kita seakan mencium aroma ironi yang menusuk hati: sebuah usaha melembagakan kesepakatan lewat bahasa, sementara kita tahu bahwa sejarah sering kali berjalan seperti "langkah raksasa yang tak punya hati," meninggalkan mufakat sebagai reruntuhan di pinggir jalan yang kemudian menjadi gelap. Agaknya, kebenaran memang ibarat ekor cicak yang menggelepar: kita menangkap katanya yang meyakinkan, tapi maknanya sering kali lepas dan hilang dalam keriuhan zaman yang fana.