Di bulan April 1966, tatkala debu di jalanan Jakarta barangkali belum benar-benar mengendap setelah guncangan yang hebat, sebuah naskah lahir di Washington D.C. untuk merapikan kekacauan sejarah yang masih panas. Buku ini bukan sekadar laporan birokrasi militer yang kaku; ia adalah sebuah upaya untuk membekukan "peristiwa" menjadi "fakta," sebuah peta yang dengan tegas menarik garis batas antara "kami" yang setia dan "mereka" yang berkhianat. Melalui narasi "proloog" dan "epiloog," kita diajak menyusuri lorong-lorong infiltrasi dalam panggung kebudayaan, media massa, hingga barak tentara, yang semuanya bermuara pada satu titik kiamat yang gagal. Ia adalah monumen kata-kata yang mencoba menjinakkan trauma dengan logika keseragaman, sebuah ikhtiar untuk memisahkan sosok pemimpin dari bayang-bayang pengaruh yang dianggap jahat, seraya melegitimasi amarah kolektif sebagai roda revolusi yang menggilas musuhnya sendiri. Di balik lembar-lembar penjelasannya yang resmi, buku ini menyimpan sisa-sisa kegentingan sebuah bangsa yang sedang mencari dasar bagi "satunya kata dan perbuatan" di tengah asap ketidakpastian yang belum sepenuhnya sirna.
Description:
Di bulan April 1966, tatkala debu di jalanan Jakarta barangkali belum benar-benar mengendap setelah guncangan yang hebat, sebuah naskah lahir di Washington D.C. untuk merapikan kekacauan sejarah yang masih panas. Buku ini bukan sekadar laporan birokrasi militer yang kaku; ia adalah sebuah upaya untuk membekukan "peristiwa" menjadi "fakta," sebuah peta yang dengan tegas menarik garis batas antara "kami" yang setia dan "mereka" yang berkhianat. Melalui narasi "proloog" dan "epiloog," kita diajak menyusuri lorong-lorong infiltrasi dalam panggung kebudayaan, media massa, hingga barak tentara, yang semuanya bermuara pada satu titik kiamat yang gagal. Ia adalah monumen kata-kata yang mencoba menjinakkan trauma dengan logika keseragaman, sebuah ikhtiar untuk memisahkan sosok pemimpin dari bayang-bayang pengaruh yang dianggap jahat, seraya melegitimasi amarah kolektif sebagai roda revolusi yang menggilas musuhnya sendiri. Di balik lembar-lembar penjelasannya yang resmi, buku ini menyimpan sisa-sisa kegentingan sebuah bangsa yang sedang mencari dasar bagi "satunya kata dan perbuatan" di tengah asap ketidakpastian yang belum sepenuhnya sirna.